Kenaikan BBM; Ekonomi Candu Minyak Korbankan Rakyat

WALHI

Juallah pasir di gurun, maka tak akan laku.
Juallah es batu dekat, maka tak akan laku.
Juallah kayu bakar di tepi hutan, maka tak akan laku.
Juallah air kemasan di kampung tepi sungai yang bersih, maka tak akan laku.

Prinsip komoditi ekonomi adalah kelangkaan. Komoditi tidak akan laku bila tak ada kelangkaan. Karenanya, VOC lakukan patroli kapal pedagang rempah di sekitar Maluku, dan tembaki kapal apa saja keluar yang bawa rempah keluar selain kapal rempah VOC. Rakyat ditipu untuk merusak batang dan akar pohon cengkeh dengan alasan batang dan akarlah yang sedang diminati pasar Eropah. Tujuannya, agar pohon cengkeh rusak, berkurang, jumlah komoditi dapat dikontrol.

Begitu juga halnya dengan energi. Banyak perusahaan terkaya di dunia adalah yang bergerak di sektor energi. Komoditi energinya adalah minyak, dan batubara. Cadangan minyak terbatas. Perlu proses milyaran tahun untuk menghasilkan minyak. Dan manusia sudah hampir habiskan cadangan minyak hanya dalam 200 tahun.  Indonesia pun telah melampaui puncak produksi minyaknya. Cadangan batu bara Indonesia hanya mampu bertahan sampai 20 tahun ke depan. Tapi kian langka barang ini, kian menguntungkan sebagai komoditi.

Para industri energi yang bergerak di sektor energi fosil tidak beranjak ke energi terbarukan. Sebab sumber energi terbarukan, seperti sinar matahari, gelombang dan pasang laut, mikrohidro, adalah berlimpah, layaknya pasir di gurun. Karena sumber energi terbarukan melimpah, maka investor–dan pemerintah yang menjaga kepentingan investor– enggan dan lamban kembangan sektor energi terbarukan. Energi minyak tetap menjadikan banyak perusahaan dunia sebagai terbesar. Dalam daftar Global 500 majalah Fortune, 8 perusahaan minyak tercatat masuk ke dalam jajaran 15 perusahaan terbesar di dunia.

Baca lebih lengkap :http://goo.gl/jQbJM